Perkembangan-Islam-di-Cirebon

Perkembangan Agama Islam Di Cirebon

Kota Cirebon adalah kota yang berada di ujung Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah. Kota Cirebon dikenal dengan kota santri yang masih terdapat banyak pesantren.

Siapa sangka kota Cirebon adalah salah satu pusat perkembangan agama Islam pada waktu dulu. Hal tersebut tentu saja menarik perhatian banyak orang untuk napak tilas ke Cirebon.

Perkembangan Agama Islam Di Cirebon

Kendati demikian, tak jarang orang merasa kurang tahu dan paham bahwa Cirebon merupakan tempat perkembangan Agama Islam. Namun tetap saja ketika bertandang ke Cirebon Anda pasti akan menemukan suasana yang kental dengan budaya Islam.

Kebanyakan penduduk Cirebon yang beragama Islam pasti menjadi bukti adanya perkembangan sejarah Islam yang cukup tinggi.

Sejak jaman dahulu kala, bahkan sebelum masa penjajahan tiba di Indonesia, Cirebon sudah menjadi akses masukknya Islam yang lumayan pesat.

Simak Jejak Perkembangan Islam di Cirebon

Daerah Otonom Bawahan Kerajaan Pajajaran

Perlu diketahui bahwa pada tahun 1302 Anno Jawa dipantai Jawa yang sekarang disebut Cirebon, ada tiga daerah otonom bawahan kerajaan Pajajaran yang masing-masing dikepalai oleh seorang Mangkubumi.

Ketiga daerah otonom di antaranya adalah Singapura atau Martasinga, Pasmabangan dan Japura.

Daerah Singapura Mertasinga yang dikepalai oleh Mangkubumi Singapur. Daerah Pasambangan dikepalai oleh Ki Ageng Jumajan Jati dan daerah Japura dikepalai Ki Ageng Japura.

Ketiga otonom ini rupanya mengirimkan hulu bekti atau upeti untuk setiap tahunnya kepada Kerajaan Pakuan Pajajaran.

Kerajaan Raja Galuh

Bukan hanya itu, sekitar Ā± 18 Km dari kota Cirebon sekarang ada sebuah kerajaan kecil yang disebut Kerajaan Raja Galuh, dengan kepala negaranya bernama Prabu Cakraningrat.

Kerajaan ini meliputi daerah Palimanan dengan Mangkubuminya Dipati Kiban. Namun Daerah Palimanan kebetulan perbatasan dengan daerah otonom Pasambangan atau Caruban LarangĀ  (Caruban Pantai atau Pesisir dan Caruban Girang).

Pelabuhan Caruban Larang

Pelabuhan Caruban Larang memang sudah ramai dan mempunyai sebuah mercu suar untuk memberi petunjuk tanda berlabuh kepada perahu-perahu layar.

Perahu-perahu ini akan singgah di pelabuhan yang disebut Muara Jati atau sekarang bernama Alas Konda.

Namun kenyataanya pelabuhan ini ramai disinggahi oleh perahu-perahu pedagang dari berbagai negara, terutama ketika Ki Ageng Tapa sebagai Syah Bandar Pelabuhan tersebut.

Pelabuhan-pelabuhan ini disinggahi para pedagang dari Arab, Persi, India, Malaka, Singapura, Paseh, Negara Cina, Jawa Timur, Madura, Palembang dan Sulawesi.

Kebon Pesisir

Menginjak ke sebelah timur dari Pasambangan ada sebuah daerah pantai yang luas, yang disebut Kebon Pesisir. Maka tak heran, jika Kebon Pesisir ini berbatasan dengan Palimanan.

Jadi Kebon Pesisir ini diakui pula sebagai daerah jajahan Kerajaan Galuh. Daerah ini sudah ada penghuninya, yakni seorang nelayan atau disebut Ki Gedheng Alang-alang sebagai Kuwu Caruban pertama.

Kasultanan Cirebon yang Di pimpin oleh Sunan Gunung Jati

Kemudian pada tahun berikutnya secara perlahan datanglah sunan Gunung Jati sebagai salah satu anggota dewan Walisongo yang memproklamirkan Cirebon sebagai Negara Islam Merdeka.

Untuk mengetahui biografi dan urutan walisongo silahkan kunjungi wisatanabawi.com yang mengulas tentangtokoh walisongo.

Akhirnya Cirebon menjadi basis atau pusat penyebaran agama islam di Jawa Barat. Dan di Cirebon juga didirikan kasultanan Cirebon yang dipimpin oleh Sayarif Hidayatullah atau sunan Gunung Jati.

Tempat persidangan sekaligus menjadi tempat dakwah islam adalah di Masjid Agung Cirebon yang masih tegak berdiri hingga sekarang.

Bahkan sampai sekarang pondok pesantren Gunung Jati masihmenjadi pondok pesantren tempat belajaragama islam yang terkenal di Jawa Barat.

Banyak santri yang datang dari berbagai penjuru wilayah Indonesia untuk belajar agama islam di pondok pesantren Gunung Jati.

Demikian ulasan singkat mengenai perkembangan agama islam di Cirebon. Hingga saat ini masih banyak kesenian islam yang masih berkembang dan dilestarikan di Cirebon.